Larangan dengki dalam Islam. Al-hasad (dengki) adalah keinginan agar hilangnya kenikmatan dari seseorang, baik kenikmatan agama maupun kenikmatan duniawi.
Allah Ta’ala berfirman:
أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ
“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya …” (QS. An-Nisaa’: 54)
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah mengecam kaum Yahudi yang merasa dengki kepada kaum Muslimin atas berbagai nikmat yang Allah anugerahkan kepada mereka, baik nikmat lahir maupun batin. Sebagai bentuk rahmat-Nya, Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri untuk membersihkan jiwa, mengajarkan al-Kitab, dan menyampaikan al-Hikmah.
Dalam pembahasan ini juga terdapat hadits Anas yang telah disebutkan pada bab sebelumnya, dan penjelasan hadits tersebut telah diberikan pada pembahasan hadits nomor 1567 dalam bab “Larangan Saling Membenci, Memutuskan Hubungan, dan Saling Memusuhi.”
Baca juga: Keutamaan Niat Dalam Islam
Hadis Rasulullah
١٥٦٩ – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ – أَوْ قَالَ: العُشْبَ
(رواه أبو داود)
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi ﷺ bersabda:
“Jauhilah sikap dengki. Sesungguhnya dengki akan memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar – atau beliau berkata: rumput.”
(HR. Abu Dawud)

Foto by: pixbay
Pengesahan Hadits
Hadits ini berstatus dha’if.
-
Diriwayatkan oleh Abu Dawud (4903) dengan sanad yang di dalamnya terdapat kakek Ibrahim bin Abi Usaid, seorang majhûl (tidak dikenal).
-
Memiliki penguat dari riwayat Ibnu Majah (4210), namun di dalam sanadnya terdapat Yahya bin Abi ‘Isa al-Hannath, seorang matrûk, sehingga riwayat tersebut tidak dapat diperhitungkan.
Kandungan Hadits
-
Hadits ini tidak dapat dijadikan hujjah karena kedha’ifannya.
-
Namun, kandungan maknanya dikuatkan oleh hadis-hadis shahih lain yang telah mencukupi sebagai dalil tentang besarnya bahaya hasad dan kewajiban menjauhinya.
Iri dan dengki bukan hanya merusak hati, tetapi juga menghapus kebaikan yang telah kita kumpulkan. Islam mengajarkan kita untuk menjaga kebersihan jiwa, mensyukuri karunia Allah, dan mendoakan kebaikan bagi sesama. Dengan menjauhkan diri dari sifat hasad, hati menjadi lebih lapang, hidup lebih tenang, dan hubungan antar sesama Muslim semakin harmonis.
Semoga pembahasan ini membantu kita memahami bahaya dengki dan mendorong kita untuk memperbaiki diri setiap hari. Mari kita terus belajar, menguatkan iman, serta menjaga hati agar selalu bersih dari sifat yang dapat merusak amal.
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang penuh syukur dan jauh dari penyakit hati. Aamiin.
Referensi
-
Al-Qur’an al-Karim
Surat An-Nisa’, ayat 54. -
Al-Hilali, Salim bin ‘Ied.
Syarah Riyadhush Shalihin, Jilid 5, hlm. 138–139.
Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i, 2007.

