Keutamaan Pujian dan Syukur. Pujian dan syukur merupakan dua amalan hati yang memiliki kedudukan agung dalam Islam, karena keduanya merupakan bentuk pengakuan seorang hamba atas kebesaran Allah dan limpahan nikmat-Nya yang tidak terhitung. Allah Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk selalu mengingat dan bersyukur kepada-Nya, serta menjanjikan tambahan nikmat bagi siapa saja yang mensyukurinya.
Allah Ta’ala berfirman:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَأَشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”
(QS. Al-Baqarah: 152)
Allah Ta’ala menyebutkan nikmat-nikmat-Nya yang sempurna kepada mereka, baik yang zhahir maupun yang batin. Kemudian Dia menganjurkan mereka untuk mengingat dan bersyukur kepada-Nya. Sebab, hal itu dipandang sebagai keharusan agar ibadah menjadi baik.
Barang siapa yang mengingat Allah, berarti dia bersyukur kepada-Nya. Barang siapa bersyukur kepada-Nya, dia pasti memperbagus ibadahnya. Barang siapa mengingat Rabbnya, niscaya Rabbnya pun mengingatnya. Barang siapa mensyukuri nikmat-Nya, tentu Rabb Yang Mahakuasa akan memberinya tambahan.
Allah Ta’ala berfirman:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“…Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu…”
(QS. Ibrahim: 7)
Syukur memastikan bertambahnya nikmat. Karena itu Allah memerintahkan seseorang untuk bersyukur. Atas dasar syukur pula Allah berjanji memberikan tambahan kebaikan.
Allah Ta’ala berfirman:
وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ
“Dan katakanlah: Segala puji bagi Allah…”
(QS. Al-Israa’: 111)
Ayat ini menunjukkan betapa mulianya pujian kepada-Nya. Allah memerintahkan dan menganjurkan Rasul-Nya untuk melakukannya.
Allah Ta’ala juga berfirman:
وَءَاخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“…Dan penutup doa mereka ialah: ‘Alhamdulillaahi Rabbil ‘Aalamin.’”
(QS. Yunus: 10)
Inilah keadaan penghuni Surga. Ayat ini menunjukkan bahwa Allah terpuji selama-lamanya, diibadahi sepanjang masa. Oleh karena itu, Dia memuji diri-Nya ketika memulai penciptaan makhluk, ketika memulai Kitab-Nya, dan ketika menurunkannya. Dia berfirman:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ …
“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan al-Kitab kepada hamba-Nya…”
(QS. Al-Kahfi: 1)
Dialah yang terpuji di dunia dan akhirat, serta di segala situasi dan kondisi.
Dalam hadits shahih disebutkan:
إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ يُلْهَمُونَ التَّسْبِيحَ وَالتَّحْمِيدَ كَمَا تُلْهَمُونَ النَّفَسَ
“Sesungguhnya para penghuni Surga diilhami tasbih dan tahmid sebagaimana kalian diilhami bernafas.” ( HR. Muslim )
Hal itu terjadi karena mereka meyakini bertambahnya nikmat Allah. Nikmat itu senantiasa berulang, bertambah, tidak ada habisnya, dan tidak dibatasi oleh waktu maupun jumlah. Allah telah berjanji untuk menambahnya. Tiada ilah selain Dia dan tiada Rabb selain Dia.
Baca juga Keutamaan Ilmu
Foto by: pixbay
HADITS ISRA’ DAN DUA GELAS
Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ pada malam Isra’ diberi dua gelas: khamer dan susu. Setelah memperhatikan keduanya, beliau memilih susu. Maka Jibril berkata:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَاكَ لِلْفِطْرَةِ، لَوْ أَخَذْتَ الْخَمْرَ غَوَتْ أُمَّتُكَ
“Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan engkau kepada fitrah. Andaikan engkau memilih khamer, pasti tersesatlah umatmu.”
(HR. Muslim)
Pengesahan Hadits
Diriwayatkan oleh Muslim (168).
Hadits ini juga terdapat dalam Sahih al-Bukhari (VI/428 – Fath), dan lafaz ini adalah milik al-Bukhari. Penyusun (Imam an-Nawawi) meninggalkan hadits tersebut.
Kosa Kata Asing
الفطرة : istiqamah mengikuti agama yang haq.
Kandungan Hadits
-
Penetapan adanya peristiwa Isra’ Rasulullah ﷺ.
-
Penjelasan tentang bimbingan Allah kepada Nabi-Nya menuju fitrah.
-
Keutamaan susu dibanding makanan lainnya.
-
Penjelasan bahwa sejelek-jelek minuman adalah khamer.
-
Keterangan bahwa kehancuran suatu bangsa disebabkan oleh khamer, karena khamer adalah induk segala kejelekan.
Referensi
-
Al-Qur’an al-Karim
-
Surah Al-Baqarah: 152
-
Surah Ibrahim: 7
-
Surah Al-Isra: 111
-
Surah Yunus: 10
-
Surah Al-Kahfi: 1
-
-
Kitab dan Syarah
-
Salim bin ‘Ied al-Hilali, Syarah Riyadhush Shalihin, Jilid 4, hal. 317–319, Imam Syafi’i, Jakarta, 2007.
-


