Bahaya Meremehkan Muslim.Merendahkan orang lain, baik melalui ucapan, ejekan, maupun sikap, merupakan perbuatan yang dilarang dalam Islam. Selain melukai hati sesama muslim, perbuatan ini juga menunjukkan kesombongan yang dibenci oleh Allah Ta’ala. Al-Qur’an dan Sunnah memberikan peringatan tegas agar kaum muslimin menjaga kehormatan saudaranya dan menjauhi segala bentuk penghinaan.
Larangan Merendahkan Orang-orang Islam
Allah Ta’ala berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik daripada wanita (yang mengolok-olok), dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman, dan barang siapa yang tidak bertaubat maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
(QS. Al-Hujurat: 11)
Ayat yang mulia ini berisi larangan tegas bagi kaum mukminin untuk merendahkan, menghina, atau meremehkan orang lain. Perbuatan tersebut termasuk dosa yang diharamkan, karena bisa jadi orang yang diremehkan justru lebih mulia kedudukannya di sisi Allah Ta’ala dan lebih dicintai-Nya daripada orang yang merendahkan.
Dalam ayat ini, Allah terlebih dahulu melarang kaum laki-laki mengolok-olok sesamanya, kemudian menyebutkan larangan yang sama bagi kaum perempuan. Setelah itu, Allah melarang seluruh kaum mukminin saling mencela, menghina, dan memberikan julukan-julukan buruk kepada saudaranya.
Perbuatan-perbuatan tersebut digolongkan sebagai fusuq (keluar dari ketaatan kepada Allah). Oleh karena itu, Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk segera bertaubat. Barang siapa tidak bertaubat dan terus-menerus melakukan perbuatan tersebut, maka ia termasuk orang-orang yang zalim.
Allah Ta’ala juga berfirman:
وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ
“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.”
(QS. Al-Humazah: 1)
Ayat ini merupakan ancaman keras bagi orang yang gemar mengumpat dengan lisannya dan mencela dengan perbuatannya. Mereka merendahkan dan meremehkan orang lain, baik secara terang-terangan maupun di belakangnya. Allah mengancam mereka dengan kecelakaan, kebinasaan, dan kesulitan pada hari ketika mereka kembali menghadap Rabb mereka. Pada saat itu, harta dan segala yang mereka banggakan tidak akan mampu memberikan manfaat sedikit pun.
Baca juga Bahaya Sifat Dengki
Hadits Tentang Larangan Meremehkan Sesama Muslim
١٥٧٦ – وَعَنْ جُنْدُبِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: قَالَ رَجُلٌ: وَاللهِ لَا يَغْفِرُ اللهُ لِفُلَانٍ، فَقَالَ اللهُ: مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ؟ إِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُ، وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ. (رواه مسلم)
Dari Jundub bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seorang laki-laki berkata: ‘Demi Allah! Allah tidak akan mengampuni Fulan.’ Maka Allah berfirman: ‘Siapakah yang berani bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni Fulan? Sungguh Aku telah mengampuninya dan Aku telah menghapus seluruh amalmu.'”
(HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan betapa berbahayanya sikap meremehkan orang lain dan merasa lebih baik daripada sesama muslim. Seseorang tidak berhak memastikan bahwa Allah tidak akan mengampuni hamba tertentu, karena ampunan dan rahmat Allah berada di tangan-Nya semata.

Foto by pixbay
Kandungan Hadits
Beberapa pelajaran penting yang dapat diambil dari hadits di atas adalah:
- Peringatan keras agar tidak meremehkan dan merendahkan kaum muslimin.
- Luasnya rahmat dan ampunan Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya.
- Larangan berputus asa dari rahmat Allah.
- Hadits ini menunjukkan bahwa Allah dapat mengampuni dosa seseorang sesuai kehendak-Nya.
- Haram menetapkan suatu keputusan yang merupakan hak dan kewenangan Allah semata, seperti memastikan seseorang tidak akan mendapatkan ampunan-Nya.
Seorang muslim hendaknya menjaga lisan dan sikapnya dari perbuatan menghina, meremehkan, mengolok-olok, atau memberi julukan buruk kepada saudaranya. Kemuliaan seseorang tidak diukur dari penampilan, kedudukan, kekayaan, atau status sosialnya, melainkan dari ketakwaannya kepada Allah Ta’ala.
Boleh jadi orang yang tampak hina di mata manusia justru memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Karena itu, seorang mukmin hendaknya senantiasa bersikap tawadhu’, menjaga kehormatan saudaranya, serta memperbanyak doa agar dirinya dan kaum muslimin mendapatkan ampunan dan rahmat Allah Ta’ala.
Referensi
- Al-Qur’anul Karim.
- Shahih Muslim.
- Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, Syarah Riyadhush Shalihin Jilid 5, Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Jakarta.
- Al-Imam An-Nawawi, Riyadhush Shalihin.
- Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama Republik Indonesia.

