Puasa dan Menjaga Lisan

Puasa dan Menjaga Lisan

Puasa dan Menjaga Lisan. Perintah bagi orang yang berpuasa untuk menjaga lisan dan anggota tubuh dari penyimpangan.Puasa dalam Islam tidak hanya bermakna menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa. Lisan, pendengaran, penglihatan, dan seluruh anggota badan dituntut untuk ikut “berpuasa” agar puasa yang dijalani bernilai ibadah yang sempurna di sisi Allah ﷻ.

Picture by: pixbay

Hadis Pertama

١٢٤ – عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ
إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ،
فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ
(متفق عليه)

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila salah seorang di antara kalian berada pada hari puasanya, maka janganlah berkata cabul dan jangan pula berteriak-teriak. Jika ada seseorang yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’
(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Pengesahan dan penjelasan hadis ini telah disampaikan pada pembahasan hadis nomor (1215) dalam Bab “Hukum Wajibnya Puasa di Bulan Ramadhan.”

Hadis ini menunjukkan bahwa puasa menuntut pengendalian emosi dan akhlak. Orang yang berpuasa diperintahkan untuk menahan diri dari ucapan kotor, pertengkaran, serta sikap emosional, bahkan ketika diprovokasi oleh orang lain.

Baca juga Bekal Iman Jelang Ramadhan


Hadis Kedua

۱۲۸۱ – وَعَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
(رواه البخاري)

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata bahwa Nabi ﷺ bersabda:

“Barang siapa tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. al-Bukhari)

Pengesahan Hadis:
Diriwayatkan oleh al-Bukhari (IV/116 – Fath al-Bari).

Kosa Kata:

  • Meninggalkan (يَدَعْ)

Hadis ini menegaskan bahwa esensi puasa bukan sekadar lapar dan haus, tetapi meninggalkan segala bentuk kebatilan, baik dalam ucapan maupun perbuatan.


Kandungan Hadis dan Penjelasan Ulama

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah رحمه الله dalam al-Waabilush Shayyib menjelaskan:

“Orang yang benar-benar berpuasa adalah orang yang menahan anggota tubuhnya dari perbuatan dosa; menahan lisannya dari dusta, ucapan keji, dan kebatilan; menahan perutnya dari makan dan minum; serta menahan kemaluannya dari perbuatan tidak senonoh. Jika ia berbicara, maka ia berbicara dengan ucapan yang tidak merusak puasanya. Jika ia beramal, maka ia tidak melakukan sesuatu yang merusak puasanya.”

Ucapan dan perbuatan orang yang berpuasa seharusnya hanya berupa kebaikan dan kemanfaatan. Amal perbuatannya diibaratkan seperti aroma harum minyak kesturi yang dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian, orang yang berpuasa akan memberikan rasa aman kepada siapa pun yang bergaul dengannya, karena terjaga dari kebohongan, kezaliman, kejahatan, dan kedustaan.

Inilah hakikat puasa yang disyariatkan dalam Islam, bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum semata. Rasulullah ﷺ juga mengingatkan dalam hadis shahih:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan haus.”


Puasa sejatinya adalah menahan diri dari seluruh dosa, baik yang dilakukan oleh lisan maupun anggota tubuh lainnya. Perbuatan dosa dapat mengurangi pahala puasa, bahkan merusak buahnya, sehingga seseorang dikhawatirkan hanya mendapatkan rasa lapar dan haus tanpa nilai ibadah yang sempurna. Oleh karena itu, menjaga lisan dan akhlak merupakan bagian penting dari kesempurnaan puasa.

Referensi

Salim bin ‘Ied al-Hilali. Syarah Riyadhush Shalihin. Jilid 4, hlm. 108 – 110. Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i, 2008.