Dosa Kesaksian Palsu

Dosa Kesaksian Palsu

Dosa Kesaksian Palsu.Bahaya Ucapan Dusta dan Kesaksian Palsu

Ucapan palsu merupakan bentuk kebohongan dan perbuatan mengada-ada. Di antara bentuk ucapan palsu yang paling berbahaya adalah kesaksian palsu, yaitu memberikan persaksian dengan sesuatu yang batil dan tidak sesuai kenyataan. Perbuatan ini termasuk dosa besar yang membinasakan dan sangat berat keharamannya dalam Islam.

Allah Ta’ala berfirman:

… وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ

“…dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.”
(QS. Al-Hajj: 30)

Dalam ayat ini, Allah Tabaraka wa Ta’ala menyandingkan perbuatan syirik dengan ucapan palsu, menunjukkan betapa besar dan berat dosa tersebut.

Allah Ta’ala juga berfirman:

فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ ۝ حُنَفَاءَ لِلَّهِ غَيْرَ مُشْرِكِينَ بِهِ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

“Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.”
(QS. Al-Hajj: 30–31)

Mengada-adakan Kebohongan atas Nama Allah

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Katakanlah: Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu, dan mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.”
(QS. Al-A’raaf: 33)

Karena itu, para ulama Salaf menyatakan bahwa dosa persaksian palsu setara dengan dosa kemusyrikan dalam besarnya ancaman. Kita memohon perlindungan kepada Allah dari perbuatan syirik, baik yang diketahui maupun yang tidak disadari.

Larangan Berbicara Tanpa Ilmu

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ …

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya…”
(QS. Al-Israa’: 36)

Ayat ini mengajarkan agar seorang muslim tidak berbicara, bersaksi, atau menyampaikan sesuatu tanpa ilmu dan kebenaran yang jelas.

Setiap Ucapan Akan Dipertanggungjawabkan

Allah Ta’ala berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan di dekatnya ada malaikat pengawas yang selalu hadir.”
(QS. Qaaf: 18)

Dan Allah Ta’ala juga berfirman:

إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ

“Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengawasi.”
(QS. Al-Fajr: 14)

Setiap perkataan akan dicatat dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala. Oleh sebab itu, seorang muslim hendaknya menjaga lisannya dari dusta, fitnah, dan kesaksian palsu.

Ciri Hamba Allah yang Mulia

Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ …

“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu…”
(QS. Al-Furqaan: 72)

Di antara sifat ‘ibaadurrahmaan (hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih) ialah mereka tidak menghadiri dan tidak terlibat dalam kebatilan, kebohongan, kefasikan, maupun perkara sia-sia.

Para ulama menafsirkan kata الزُّورَ dalam ayat ini dengan berbagai makna, seperti:

  • kekufuran,
  • kebohongan,
  • kefasikan,
  • perkara batil,
  • nyanyian dan omong kosong,
  • hari raya orang musyrik,
  • hingga persaksian palsu.

Makna yang paling mencakup adalah bahwa mereka menjauhi seluruh bentuk kebatilan dan kebohongan dalam berbagai bentuknya.

Karena itu Allah Ta’ala melanjutkan firman-Nya:

وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

“…dan apabila mereka bertemu dengan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat, mereka lalui dengan menjaga kehormatan dirinya.”
(QS. Al-Furqaan: 72)

Mereka tidak terpengaruh oleh kebatilan dan tidak mengotori diri dengannya sedikit pun.

Foto by:pixbay

Hadits tentang Besarnya Dosa Ucapan Bohong

Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟ قُلْنَا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ. وَكَانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فَقَالَ: أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ. فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا: لَيْتَهُ سَكَتَ

“Maukah aku beritahukan kepada kalian dosa besar yang paling besar?” Kami menjawab: “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” Ketika itu beliau sedang bersandar, lalu beliau duduk dan bersabda: “Ketahuilah, juga ucapan bohong!” Beliau terus mengulanginya hingga kami berkata: “Seandainya beliau diam.”
(Muttafaq ‘alaih)

Hadits ini menunjukkan betapa besar dosa ucapan bohong dan persaksian palsu, sampai Rasulullah ﷺ mengulang-ulang peringatannya karena sangat berbahaya bagi individu maupun masyarakat.

Baca juga Bijak Menjaga Lisan

Persaksian palsu bukan sekadar dosa lisan, tetapi termasuk dosa besar yang dapat merusak hak manusia, menghancurkan keadilan, dan mendatangkan murka Allah Ta’ala. Seorang muslim hendaknya menjaga lisannya, tidak berbicara tanpa ilmu, serta takut kepada pengawasan Allah Yang Maha Melihat segala sesuatu.

Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dari ucapan dusta, persaksian palsu, dan segala bentuk kebatilan.

Footnote
Al-Hilali, Salim bin ‘Ied. 2008. Syarah Riyadhush Shalihin Jilid 5. Jakarta: Pustaka Imam Asy- Syafi’i.