Makna dan Perintah Istighfar dalam Al-Qur’an
Istighfar (memohon ampun kepada Allah) adalah amalan yang sangat mulia dan memiliki banyak keutamaan. Dalam berbagai ayat Al-Qur’an, Allah ﷻ secara langsung memerintahkan hamba-Nya untuk beristighfar, termasuk kepada Rasulullah ﷺ.
Allah Ta‘ala berfirman:
وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ
“…dan mohonlah ampunan bagi dosamu…”
(QS. Muhammad: 19)
Ayat ini menunjukkan bahwa memohon ampunan (istighfar) bukan hanya untuk orang yang banyak berbuat dosa, tetapi juga merupakan tanda ketaatan dan kerendahan hati di hadapan Allah. Rasulullah ﷺ sendiri, meskipun telah dijamin ampunan oleh Allah, tetap memperbanyak istighfar setiap harinya.
Rasulullah ﷺ dan Kebiasaan Beristighfar
Dari Al-Aghar al-Muzani , beliau berkata:
عَنِ الْأَغَرِ الْمُزَنِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ:
إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي، وَإِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ
(رواه مسلم)
Artinya:
“Sesungguhnya hatiku kadang terasa tertutup (dari dzikir), dan aku benar-benar memohon ampun kepada Allah dalam sehari sebanyak seratus kali.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan pentingnya istighfar dalam kehidupan sehari-hari, bahkan bagi Rasulullah ﷺ yang merupakan manusia paling mulia di sisi Allah.
Baca juga Keutamaan dan Adab Sedekah
Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang
Dalam ayat lain, Allah Ta‘ala berfirman:
وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا
“Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. An-Nisaa’: 106)
Ayat ini menegaskan bahwa Allah selalu membuka pintu ampunan bagi hamba-hamba-Nya yang mau memohon ampun dan bertaubat. Siapa pun yang datang kepada-Nya dengan hati yang tulus akan mendapatkan kasih sayang dan rahmat-Nya yang luas.
Waktu Terbaik untuk Beristighfar
Di antara tanda orang bertakwa adalah mereka yang memperbanyak istighfar di waktu sahur, yaitu saat menjelang fajar — waktu yang penuh keberkahan dan mustajab untuk berdoa.
Allah ﷻ berfirman:
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Taubat.”
(QS. An-Nashr: 3)
Istighfar di waktu sahur menggambarkan kerendahan hati dan kesungguhan seorang hamba dalam mencari ampunan Allah, karena waktu tersebut adalah waktu yang paling dekat dengan rahmat dan kasih sayang-Nya.
Janji Allah bagi Orang yang Beristighfar
Allah menjanjikan ampunan dan kasih sayang-Nya bagi siapa saja yang memohon ampun dengan tulus, meskipun pernah berbuat dosa besar.
Allah Ta‘ala berfirman:
وَمَن يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ، ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَّحِيمًا
“Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan atau menganiaya dirinya sendiri, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. An-Nisaa’: 110)
Ayat ini adalah janji dan harapan besar bagi setiap hamba, bahwa selama pintu istighfar masih terbuka, maka tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni Allah.

Foto by: pixbay
Istighfar bukan hanya ucapan lisan, tetapi juga bentuk kesadaran hati dan keinginan untuk memperbaiki diri. Dengan memperbanyak istighfar, seorang Muslim akan mendapatkan:
-
Ketenangan hati dan kelapangan rezeki
-
Dihapuskan dosa dan kesalahan
-
Didekatkan kepada rahmat dan pertolongan Allah
Referensi
- Al-Qur’an al-Karim
-
QS. Muhammad: 19
-
QS. An-Nisaa’: 106, 110
-
QS. An-Nashr: 3
2. Hadis Shahih
-
Muslim. Shahih Muslim, Kitab Adz-Dzikr wa Ad-Du‘a’, No. 2702 — tentang istighfar 100 kali sehari.
3. Kitab Tafsir dan Sumber Ulama
-
Ibnu Katsir. Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim. Riyadh: Dar Thayyibah.
-
Al-Qurthubi. Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an. Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah.
4. Syarah dan Penjelasan Hadis
-
Al-Hilali, Syaikh Salim bin ‘Ied. Syarah Riyadhus Shalihin, Jilid 5. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi‘i, 2007.

