Adab Jual Beli

Adab Jual Beli

Adab Jual Beli.Keutamaan bersikap toleran ketika berjual beli, mengambil dan memberi, bersikap baik ketika membayar utang dan menagih, bersikap adil dalam takaran dan timbangan serta larangan menguranginya, dan keutamaan menangguhkan utang orang yang dalam kesulitan serta membebaskan utangnya.

1. Allah Mengetahui Setiap Kebaikan

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah: 215).

Apa pun bentuk kebaikan yang Anda lakukan, Allah pasti mengetahuinya. Dia akan membalasnya dengan balasan yang lebih banyak daripada perbuatan tersebut. Tidak seorang pun yang diperlakukan zalim, walaupun seberat biji atom.

2. Perintah Berlaku Adil dalam Takaran dan Timbangan

Allah Ta’ala berfirman:

وَيَا قَوْمِ أَوْفُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ …

“Dan Syu’aib berkata, ‘Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka.’” (QS. Hud: 85).

Allah, Al-Maula, mengabarkan bahwa Nabi Syu’aib melarang kaumnya mengurangi takaran dan timbangan ketika memberikan sesuatu kepada orang lain.

Beliau memerintahkan mereka agar memenuhi takaran dan timbangan secara adil dan sempurna, baik ketika mengambil barang maupun ketika memberikannya kepada orang lain.

Allah Ta’ala juga berfirman:

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ ۝١
الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ ۝٢
وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ ۝٣
أَلَا يَظُنُّ أُولَٰئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ ۝٤
لِيَوْمٍ عَظِيمٍ ۝٥
يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ ۝٦

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari ketika manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam?” (QS. Al-Muthaffifin: 1–6).

Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, penduduk di sana termasuk orang-orang yang buruk dalam memperlakukan takaran. Oleh karena itu, Allah menurunkan ayat-ayat tersebut sehingga mereka menjadi orang-orang yang baik dalam memperlakukan takaran.

Baca juga   Larangan Mendatangi Dukun

Pengertian At-Tathfif

Yang dimaksud dengan at-tathfif adalah merugikan orang lain dalam takaran dan timbangan. Perbuatan ini bisa dilakukan dengan menambah takaran ketika mengambil dari orang lain atau mengurangi takaran ketika memberikan atau membayar kepada orang lain.

Allah menjelaskan sifat orang-orang yang curang dalam takaran dan timbangan, yaitu mereka yang menginginkan haknya dipenuhi secara sempurna, bahkan lebih, ketika mengambil dari orang lain. Namun, ketika memberikan hak orang lain, mereka justru mengurangi takaran atau timbangan.

Allah memerintahkan manusia untuk memenuhi takaran dalam banyak ayat di dalam Kitabullah. Kaum Nabi Syu’aib dihancurkan dan dibinasakan karena merugikan orang lain melalui kecurangan dalam takaran dan timbangan.

Allah juga mengancam orang-orang yang curang dalam takaran dan timbangan dengan mengingatkan mereka tentang hari kebangkitan. Pada hari itu, manusia dibangkitkan dari kuburnya tanpa alas kaki, dalam keadaan telanjang dan belum dikhitan.

Mereka berdiri di sebuah padang yang luas, penuh kesulitan, kesedihan, dan kesempitan bagi orang-orang yang berdosa. Mereka akan menghadapi perintah Allah yang tidak sanggup ditanggulangi oleh kekuatan dan kemampuan indra mereka.

Pada hari itu, ada manusia yang tenggelam dalam keringatnya hingga mencapai pertengahan kedua telinga atau hidungnya.

Kita memohon kepada Allah agar diselamatkan pada hari Al-Faza’ Al-Akbar (hari yang sangat menakutkan).

3. Hadis tentang Kebaikan dalam Membayar Utang

Hadis

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ ﷺ يَتَقَاضَاهُ فَأَغْلَظَ لَهُ فَهَمَّ بِهِ أَصْحَابُهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «دَعُوهُ فَإِنَّ لِصَاحِبِ الْحَقِّ مَقَالًا» ثُمَّ قَالَ: «أَعْطُوهُ سِنًّا مِثْلَ سِنِّهِ» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَا نَجِدُ إِلَّا أَمْثَلَ مِنْ سِنِّهِ. قَالَ: «أَعْطُوهُ فَإِنَّ خَيْرَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً».

(مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

Terjemahan:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya seorang laki-laki pernah datang kepada Nabi ﷺ untuk menagih utang. Laki-laki itu bersikap kasar kepada beliau sehingga para sahabat hampir mengambil tindakan terhadapnya.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Biarkanlah dia, karena sesungguhnya orang yang mempunyai hak berhak berbicara.”

Kemudian, beliau bersabda, “Berikanlah kepadanya seekor unta yang seusia dengan untanya.”

Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, kami tidak mendapatkan unta kecuali yang lebih baik daripada untanya.”

Beliau bersabda, “Berikanlah kepadanya. Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik dalam membayar utang.”

(Muttafaq ‘alaih)

 

 

Foto by:pixbay

Pengesahan Hadis

Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (IV/482, Fathul Bari) dan Muslim (1601).

Kosakata Asing

  • يَتَقَاضَاهُ: Menuntut pembayaran harta atau utang yang menjadi haknya.
  • فَهَمَّ بِهِ: Para sahabat hampir melakukan tindakan terhadap orang tersebut sebagai pembalasan atas kekasarannya kepada Rasulullah ﷺ.
  • أَمْثَلَ مِنْ سِنِّهِ: Unta yang lebih baik daripada unta miliknya, meskipun usianya sama atau lebih muda.

4. Kandungan Hadis

  1. Boleh menagih utang apabila telah sampai pada batas waktu yang diperjanjikan. Hadis ini menunjukkan betapa baik akhlak Nabi ﷺ, besarnya kesabaran beliau, kerendahan hati, dan kesadaran beliau dalam memenuhi hak orang lain.
  2. Orang yang berutang tidak pantas bersikap kasar kepada orang yang memberikan utang. Hak orang yang memberi utang harus dihormati dan dipenuhi dengan baik.
  3. Orang yang bersikap tidak sopan kepada pemimpin dapat diberi hukuman sebagai pelajaran, sesuai dengan tingkat perbuatannya, kecuali jika ia mendapatkan pemberian maaf.
  4. Boleh berutang atau meminjam unta, demikian pula binatang lainnya.
  5. Utang piutang untuk kepentingan kebajikan, ketaatan, dan hal-hal yang diperbolehkan agama tidak tercela.
  6. Pemimpin boleh meminjam harta sedekah dari kas negara untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang memerlukannya, sebagaimana dijelaskan dalam kandungan hadis ini.
  7. Boleh mewakilkan orang yang hadir di negeri tersebut untuk melaksanakan suatu urusan, selama tidak ada uzur yang menghalangi pihak yang diwakili.
  8. Boleh mewakilkan orang lain untuk membayar utang. Hal ini tidak termasuk perbuatan mengulur-ulur pembayaran utang.

Daftar Pustaka

Al-Hilali, Salim bin ‘Ied. Syarah Riyadhush Shalihin. Jilid 4. Diterjemahkan oleh A. Sjinqithy Djamaluddin. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2007.