LARANGAN MENDATANGI DUKUN, PERAMAL BINTANG, ORANG PINTAR, PARANORMAL, DAN SEJENISNYA
Penjelasan tentang Ilmu Perbintangan dan Ramalan
Ibnu ‘Abdil Barr berkata dalam kitab Jaami‘ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih (II/38):
“Manfaat ilmu perbintangan (astrologi), menurut seluruh penganut agama, adalah untuk mengetahui perjalanan pelayaran, letak bintang-bintang, tempat munculnya rasi bintang, pergeseran siang dan malam, panjang siang dan malam di setiap negeri, setiap hari, serta letak suatu negeri dari garis khatulistiwa (ekuator).
Selain itu, ilmu tersebut digunakan untuk mengetahui gugusan bintang utara, ufuk timur dan barat, munculnya bulan sabit (hilal), pergerakan bintang-bintang untuk menentukan musim, dan sebagainya. Demikian pula untuk mengetahui peredaran bintang, kedudukannya, garis bujur dan lintangnya, waktu dan terjadinya gerhana bulan serta matahari, besar-kecilnya gerhana di setiap negeri, serta makna tahun matahari, tahun bulan, dan tahun bintang.
Di antara ulama ada yang menolak penggunaan ilmu nujum (perbintangan) untuk mengetahui perkara gaib. Mereka berpendapat bahwa tidak seorang pun dapat mengetahui perkara gaib melalui ilmu tersebut. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahuinya dengan benar, kecuali seorang nabi yang memperoleh keistimewaan dari Allah untuk mengetahui sesuatu yang tidak boleh dijadikan pedoman oleh orang lain.
Mereka berkata, ‘Tidak ada orang yang mengaku mengetahui perkara gaib melalui perangkat tersebut pada zaman sekarang, kecuali orang bodoh yang kurang sempurna akalnya atau seorang pembohong yang hanya mengada-ada. Kemampuan mereka yang terbatas tidak mungkin dapat memberitakan perkara gaib. Akan selalu ada banyak peristiwa di dunia yang membantah klaim mereka.’
Kedudukan orang-orang yang meramal dengan ilmu nujum (perbintangan) sama seperti orang-orang yang meramal dengan membuat garis-garis, menggunakan suara atau gerakan burung sebagai pertanda, membuat rajah (garis pada telapak tangan), melihat pundak, mengamati bekas gigitan tikus dan kuda, serta melakukan praktik pengobatan berdasarkan khayalan, mengaku mendapat petunjuk dari raja jin, dan sebagainya. Semua itu tidak dapat diterima oleh akal maupun dalil. Tidak ada satu pun dari perbuatan tersebut yang dapat dibenarkan.
Sering kali mereka memberikan ramalan yang salah terhadap kasus-kasus serupa, padahal mereka menggunakan perangkat yang sama. Hal ini menunjukkan ketidakbenaran ramalan mereka. Sesungguhnya, tidak ada kebenaran yang dapat dijadikan pegangan dalam perkara gaib selain berita yang disampaikan oleh para nabi.
Mengenai dalil-dalil yang membantah ilmu nujum ini, Ibnu al-Qayyim telah membahasnya secara panjang lebar dalam kitabnya Miftāḥ Dār as-Sa‘ādah. Kitab tersebut sangat baik dan bermanfaat. Semoga Allah memberikan manfaat melalui kitab itu kepada seluruh negeri dan para hamba-Nya. Bacalah kitab tersebut karena pembahasannya sangat luas.”

Foto by:pixbay
HADIS TENTANG DUKUN DAN BERITA GAIB
Teks Hadis
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: سَأَلَ رَسُولَ اللهِ أَنَاشر
عَنِ الْكُهَّانِ، فَقَالَ: لَيَنسُوا بِشَيْءٍ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ
إِنَّهُمْ يُحَدِّثُوْنَا أَحْيَانًا بِشَيْءٍ فَيَكُونَ حَقًّا، فَقَالَ رَسُوك
الله : تِلْكَ الْكَلِمَةُ مِنَ الْحَقِّ يَخْطَفُهَا الجِنِّي فَيُقِرُّهَا
في أُذُنِ وَلِيهِ، فَيَخْلِطُوْنَ مَعَهَا مِائَةَ كَذَبَةٍ) (حصل عليهم)
(متفق
وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا سَمِعَتْ
رَسُولَ اللهِ يَقُولُ: (إِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَنْزِلُ فِي الْمَنَانِ
(وَهُوَ السَّحَابُ )
فَتَذْكُرُ الْأَمْرَ قُضِيَ فِي السَّمَا.
فَيَسْتَرِقُ الشَّيْطَانُ السَّمْعَ فَيَسْمَعُهُ فَيُوْحِيهِ إِلَى الْكُمَّانِ
فَيَكْذِبُونَ مَعَهَا مِائَةً كَذَبَةٍ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ
Terjemahan Hadis
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
“Beberapa orang pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang para dukun. Beliau menjawab, ‘Mereka tidak ada apa-apanya!’
Para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, terkadang mereka memberitahukan sesuatu kepada kami, lalu ternyata berita itu benar.’
Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Kalimat itu merupakan bagian dari berita yang benar yang dicuri oleh jin. Kemudian, jin menyampaikannya ke telinga walinya (dukun), lalu mereka mencampurkan berita tersebut dengan seratus kebohongan.’”
(Muttafaq ‘alaih, diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim).
Dalam salah satu riwayat al-Bukhari, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya para malaikat turun di awan, lalu menyebutkan urusan yang telah ditetapkan di langit. Kemudian, setan mencuri-curi pendengaran. Ia mendengarkan berita tersebut, lalu menyampaikannya kepada para dukun. Setelah itu, mereka mencampurkan berita tersebut dengan seratus kedustaan yang mereka buat sendiri.”
Baca juga Kebaikan Jadi Sia-Sia
Penjelasan Lafaz Hadis
Ucapan fa yuqirrūhā (فَيُقِرُّهَا), sebagaimana dijelaskan dalam naskah sumber, berarti melemparkan atau menyampaikan berita tersebut.
Takhrij dan Pengesahan Hadis
Hadis ini diriwayatkan oleh:
- Imam al-Bukhari, jilid X, halaman 216, nomor 595 menurut penomoran Fatḥ al-Bārī sebagaimana tercantum dalam sumber.
- Imam Muslim, nomor 2228.
Hadis ini berstatus muttafaq ‘alaih, yaitu diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.
Kosakata Asing
- الْخَطْفُ (al-khaṭf): menyambar atau mengambil dengan cepat.
- وَلِيُّهُ (waliyyuhu): orang yang menjadi teman dekat atau pihak yang dilayani oleh jin; dalam konteks hadis ini, maksudnya adalah dukun yang menerima berita dari jin.
KANDUNGAN HADIS
- Haram mendatangi dukun. Hadis ini menjadi peringatan agar seorang Muslim tidak mendatangi dukun untuk meminta informasi tentang perkara gaib.
- Larangan membenarkan ramalan dukun. Kita diperingatkan dengan keras agar tidak membenarkan perkataan dukun, baik dengan mempercayainya sendiri maupun dengan menyebarkannya kepada orang lain, meskipun sebagian ramalannya kebetulan benar.
- Sebagian berita dukun yang benar berasal dari jin yang mencuri dengar. Berita tersebut kemudian dicampur dengan banyak kebohongan sehingga tidak dapat dijadikan pegangan.
- Jin dapat menjadikan manusia sebagai teman dekatnya. Dalam konteks hadis ini, dukun menjadi pihak yang menerima berita dari jin dan menyampaikannya kepada orang lain.
- Larangan mencuri dengar berita dari langit. Pada masa Jahiliah, jin berusaha duduk di tempat-tempat di bawah langit dunia untuk mencuri dengar berita dari langit. Setelah Rasulullah ﷺ diutus sebagai nabi, mereka dilarang melakukan hal tersebut dan dilempari dengan bintang-bintang. Karena itulah, mereka berusaha mencuri dengar berita dan menyampaikannya kepada para dukun.
Pelajaran penting: Jangan tertipu oleh ramalan yang sesekali tampak benar. Kebenaran yang kebetulan terjadi tidak menjadikan praktik perdukunan sebagai sesuatu yang dapat dibenarkan. Seorang Muslim hendaknya menjaga akidahnya dan tidak menggantungkan keyakinan maupun keputusan hidupnya kepada ramalan tentang perkara gaib.
Referensi
- Al-Hilali, Salim bin ‘Ied. Syarah Riyadhush Shalihin. Jilid 5. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi‘i, 2007.
- Ibnu ‘Abdil Barr. Jaami‘ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih. Jilid II, hlm. 38. Data edisi dan penerbit perlu disesuaikan dengan kitab yang dijadikan sumber kutipan.
- Al-Bukhari, Muhammad bin Isma‘il. Shahih al-Bukhari. Kitab tentang pengobatan dan berita yang disampaikan para dukun. Nomor hadis dan penomoran halaman perlu dicocokkan dengan edisi yang digunakan.
- Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim. Kitab as-Salam, Bab Larangan Perdukunan dan Mendatangi Dukun, hadis nomor 2228.
- Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah. Miftah Dar as-Sa‘adah. Rujukan pembahasan tentang ilmu nujum dan perkara gaib.
