Kebaikan Jadi Sia-Sia

Kebaikan Jadi Sia-Sia

Kebaikan Jadi Sia-Sia.Pernahkah kita merasa sudah banyak membantu seseorang, lalu tanpa sadar mengingatkan kembali kebaikan yang pernah kita berikan?

“Dulu saya yang membantu kamu…”

Kalimat seperti ini mungkin terdengar sederhana. Namun, dalam Islam, mengungkit-ungkit pemberian bukanlah perkara ringan. Bahkan, Allah Ta‘ala memperingatkan bahwa menyebut-nyebut pemberian dan menyakiti perasaan penerimanya dapat menghilangkan pahala sedekah.

Lalu, bagaimana seharusnya seorang Muslim bersikap setelah berbuat baik? Mengapa Islam begitu keras melarang sikap mengungkit pemberian?

Mari kita simak tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah berikut ini.

 

Foto by:pixbay

Allah Ta‘ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima).”

(QS. Al-Baqarah: 264)

Allah Ta‘ala memberitahukan bahwa pahala sedekah dapat menjadi sia-sia karena seseorang mengungkit-ungkit pemberian yang telah dilakukannya dan menyakiti hati orang yang menerima pemberian tersebut.

Karena itu, kebaikan hendaknya diberikan dengan keikhlasan, tanpa diikuti sikap merasa berjasa, menyebut-nyebut pemberian, ataupun menyakiti perasaan orang yang telah dibantu.

Allah Ta‘ala juga berfirman:

الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan penerima).”

(QS. Al-Baqarah: 262)

Dalam ayat ini, Allah Tabaaraka wa Ta‘ala memuji orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan-Nya, kemudian mereka tidak mengungkit-ungkit kebaikan dan pemberian yang telah mereka berikan serta tidak melakukan tindakan atau mengucapkan perkataan yang dapat menyakiti hati orang yang diberi.

Mereka memberikan harta dan berbuat baik dengan menjaga adab setelahnya. Mereka tidak menjadikan pemberian sebagai sarana untuk merasa lebih tinggi, menuntut balasan, atau merendahkan orang yang menerima.

Hal ini karena mereka hanya mengharapkan keridhaan Allah semata.

Ancaman bagi Orang yang Suka Mengungkit-Ungkit

Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ:
ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ، وَلَا يُزَكِّيهِمْ، وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ.
قَالَ: فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ.
قَالَ أَبُو ذَرٍّ: خَابُوا وَخَسِرُوا، مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟
قَالَ: الْمُسْبِلُ، وَالْمَنَّانُ، وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ.

“Dari Abu Dzarr, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

‘Ada tiga golongan yang tidak akan diajak berbicara oleh Allah pada hari Kiamat, Allah tidak melihat mereka, tidak menyucikan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih.’

Abu Dzarr berkata, ‘Rasulullah ﷺ mengatakannya tiga kali.’

Abu Dzarr berkata, ‘Mereka benar-benar gagal dan rugi. Siapakah mereka, wahai Rasulullah?’

Beliau menjawab, ‘Orang yang memanjangkan kainnya, orang yang suka mengungkit-ungkit pemberiannya, dan orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah palsu.’”

(HR. Muslim)

Dalam salah satu riwayat Muslim disebutkan:

الْمُسْبِلُ إِزَارَهُ

Yakni orang yang memanjangkan kain atau pakaiannya hingga melewati mata kaki karena kesombongan.

Baca juga Bahaya Meremehkan Muslim

Pelajaran Penting

Dari ayat-ayat dan hadits tersebut, dapat dipahami bahwa seorang Muslim hendaknya menjaga keikhlasan dalam berbuat baik. Pemberian yang dilakukan karena Allah tidak semestinya diikuti dengan mengungkit-ungkit jasa, menyebut-nyebut kebaikan yang telah dilakukan, atau menyakiti hati orang yang menerima.

Sebuah pemberian dapat menjadi sebab datangnya pahala, tetapi mengungkit-ungkit pemberian dapat merusak bahkan menghilangkan pahala tersebut.

Karena itu, ketika telah berbuat baik kepada seseorang, hendaknya kita berusaha melupakan kebaikan tersebut dan tidak menjadikannya sebagai alat untuk merendahkan, menekan, atau mengingatkan orang lain tentang jasa kita.

Semoga Allah Ta‘ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas dalam beramal, menjaga lisan dan perasaan sesama Muslim, serta memberikan kebaikan semata-mata karena mengharapkan keridhaan-Nya.

Referensi

  • Al-Qur’anul Karim.
  • Shahih Muslim.
  • Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, Syarah Riyadhush Shalihin Jilid 5, Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Jakarta.
  • Al-Imam An-Nawawi, Riyadhush Shalihin.
  • Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama Republik Indonesia.