Memaknai Usia Tua.Memperbanyak Kebaikan pada Hari Tua. Setiap manusia tentu berharap memiliki umur yang panjang. Namun, panjangnya usia bukan sekadar kesempatan untuk menikmati kehidupan dunia. Semakin bertambah umur seseorang, semakin dekat pula ia dengan akhir perjalanan hidupnya. Karena itu, usia tua seharusnya menjadi masa untuk semakin mendekat kepada Allah, memperbanyak ketaatan, memperbanyak amal saleh, dan memperbaiki segala kekurangan yang masih tersisa.
Allah mensyariatkan dan memerintahkan manusia untuk terus menambah ketaatan serta menggiatkan berbagai bentuk pendekatan diri kepada-Nya. Terlebih lagi ketika seseorang telah memasuki usia senja. Usia tua merupakan bagian akhir dari perjalanan kehidupan seseorang di dunia.
Maka, alangkah baiknya apabila seseorang yang telah memasuki usia lanjut mampu memetik buah dari ketaatan yang telah ia lakukan dan memperoleh keberkahan dari berbagai kebaikan yang dikerjakannya. Jangan sampai usia yang panjang hanya bertambah dalam hitungan tahun, sementara bekal untuk kehidupan akhirat justru tidak bertambah.
Allah Ta’ala berfirman:
أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ
“Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan…?”
(QS. Fâthir [35]: 37)
Ayat ini mengandung pertanyaan yang sangat dalam. Seolah-olah Allah mengingatkan manusia, “Bukankah Aku telah memberikan kepadamu waktu yang cukup untuk berpikir, memahami kebenaran, dan kembali kepada-Ku?”
Para ulama memiliki beberapa pendapat mengenai batasan umur yang dimaksud dalam ayat tersebut.
Ibnu Abbas serta para muhaqqiq atau para ulama peneliti menerangkan bahwa maksudnya adalah: “Bukankah Kami telah memanjangkan umur kalian sampai enam puluh tahun?” Pendapat ini diperkuat oleh hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akan disebutkan berikut ini.
Ada pula yang berpendapat bahwa usia yang dimaksud adalah delapan belas tahun. Sebagian lainnya mengatakan empat puluh tahun, sebagaimana dinyatakan oleh al-Hasan, al-Kalabi, dan Masruq, yang juga dinukil dari Abdullah bin Abbas.
Mereka menuturkan bahwa secara umum, penduduk Madinah yang telah menginjak usia empat puluh tahun mulai lebih berkonsentrasi dalam beribadah kepada Allah. Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa yang dimaksud adalah usia baligh, yaitu ketika seseorang telah memasuki masa dibebani kewajiban syariat.
Adapun firman Allah:
وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ
“Padahal telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan.”
Ibnu Abbas dan jumhur ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan pemberi peringatan adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Namun, ada pula ulama yang menafsirkan pemberi peringatan sebagai datangnya uban, sebagaimana dikemukakan oleh Ikrimah, Ibnu Uyainah, dan ulama lainnya.
Uban yang mulai tumbuh dapat menjadi pengingat bahwa usia tidak lagi seperti dahulu. Kekuatan perlahan berkurang, waktu terus berjalan, dan kehidupan dunia tidak akan berlangsung selamanya.
Wallahu a’lam.
Baca juga Bahaya Berlaku Curang
Umur yang Panjang adalah Kesempatan
Renungkanlah pertanyaan Allah dalam ayat tersebut: “Bukankah kalian sudah hidup di dunia dalam waktu yang tidak sebentar?”
Seandainya manusia benar-benar termasuk orang yang mau mengambil manfaat dari al-haq, yaitu kebenaran, tentu ia akan menggunakan masa hidupnya untuk memperbaiki diri, bertaubat, beramal saleh, dan mempersiapkan kehidupan setelah kematian.
Setiap tahun yang berlalu seharusnya menjadikan seseorang semakin bijaksana. Setiap uban yang tumbuh seharusnya menjadi pengingat. Dan setiap tambahan usia seharusnya menjadi kesempatan untuk semakin dekat kepada Allah.
Namun, terkadang manusia justru menunda-nunda. Ia berkata dalam hati, “Nanti saja aku bertaubat. Nanti saja aku lebih serius beribadah. Masih ada waktu.”
Padahal tidak ada seorang pun yang mengetahui berapa lama lagi Allah memberikan kesempatan kepadanya.

Foto by:pixbay
Ketika Seseorang Telah Mencapai Usia Enam Puluh Tahun
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَالْأَوَّلُ: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: أَعْذَرَ اللهُ إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ حَتَّى بَلَغَ سِتِّينَ سَنَةً.
(رواه البخاري)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
“Allah tidak akan menerima alasan dari seseorang lagi setelah Dia menangguhkan ajalnya hingga usia enam puluh tahun.”
(HR. Al-Bukhari)
Para ulama menerangkan bahwa makna hadis tersebut adalah Allah tidak lagi memberikan alasan kepada seseorang kelak pada hari Kiamat. Sebab, Allah telah memberinya kesempatan hidup yang cukup panjang serta memberinya waktu, kesehatan, dan kekuatan untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya.
Dalam bahasa Arab, kata أَعْذَرَ menunjukkan bahwa alasan seseorang telah mencapai batas akhirnya. Tidak ada lagi alasan untuk berkata:
“Seandainya usiaku diperpanjang sedikit lagi, tentu aku akan bertaubat.”
Atau:
“Seandainya aku masih diberi kesempatan, tentu aku akan lebih sungguh-sungguh beribadah.”
Sebab, Allah telah memberikan kesempatan yang cukup. Allah telah memberikan umur. Allah telah memberikan waktu. Bahkan, dalam sebagian besar masa hidupnya, Allah juga telah memberikan kemampuan dan kekuatan untuk menjalankan perintah-Nya.
Derajat Hadis
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari.
Pelajaran yang Dapat Diambil
Hadis ini mengandung beberapa pelajaran penting bagi kita.
1. Luasnya Rahmat Allah kepada Hamba-Nya
Salah satu bentuk rahmat Allah adalah memberikan manusia umur yang panjang. Tambahan usia bukan hanya sekadar tambahan waktu hidup, tetapi juga tambahan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Selama nyawa masih berada dalam tubuh, pintu taubat masih terbuka. Selama matahari belum terbit dari arah barat, seorang hamba masih memiliki kesempatan untuk kembali kepada Allah.
Karena itu, bertambahnya usia seharusnya membuat seseorang semakin sungguh-sungguh dalam bertaubat dan memperbanyak amal saleh.
2. Allah Tidak Menghukum Sebelum Tegaknya Hujjah
Allah tidak akan memberikan hukuman kepada para hamba-Nya kecuali setelah hujjah, keterangan, dan peringatan sampai kepada mereka.
Manusia telah diberikan berbagai pengingat. Ada Al-Qur’an, sunnah Nabi, nasihat para ulama, peristiwa kehidupan, kematian orang-orang terdekat, penyakit, kelemahan tubuh, hingga tumbuhnya uban.
Semua itu dapat menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia tidaklah abadi.
3. Usia Enam Puluh Tahun adalah Pengingat yang Sangat Kuat
Penyempurnaan usia hingga enam puluh tahun menunjukkan bahwa seseorang telah diberi kesempatan yang panjang untuk menjalani kehidupan dan mempersiapkan bekal menuju akhirat.
Secara umum, usia enam puluh tahun telah menjadi masa ketika seseorang mulai menyadari bahwa perjalanan hidupnya telah memasuki tahap akhir. Kekuatan fisik mungkin tidak lagi seperti ketika muda. Kesempatan untuk melakukan banyak hal juga semakin terbatas.
Namun, usia tua bukanlah alasan untuk berhenti beramal.
Justru selama Allah masih memberikan kesempatan hidup, sekecil apa pun amal yang mampu dilakukan tetap memiliki nilai di sisi-Nya.
4. Jangan Menunda Taubat
Bagi seseorang yang telah mencapai usia enam puluh tahun, tidak sepatutnya lagi ia menunda taubat dari berbagai bentuk kemaksiatan.
Namun sesungguhnya, pesan ini bukan hanya untuk mereka yang telah berusia enam puluh tahun. Tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah ia akan diberi kesempatan untuk mencapai usia tersebut.
Ada yang meninggal ketika masih muda. Ada yang dipanggil Allah pada usia dewasa. Ada pula yang diberi umur panjang hingga usia senja.
Karena itu, waktu terbaik untuk memperbaiki diri bukanlah nanti, melainkan sekarang.
Memperbanyak Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan
Usia yang bertambah hendaknya menjadi alasan untuk memperbanyak kebaikan, bukan justru mengurangi semangat dalam beribadah.
Mungkin ketika usia muda seseorang mampu melakukan banyak ibadah dengan kekuatan fisiknya. Ketika usia semakin lanjut dan tenaga mulai berkurang, ia tetap dapat memperbanyak amal sesuai kemampuannya.
Memperbanyak dzikir.
Memperbanyak istighfar.
Membaca Al-Qur’an.
Mendoakan anak-anak dan keluarga.
Memberikan nasihat yang baik.
Membantu orang lain sesuai kemampuan.
Bersedekah.
Memaafkan orang lain.
Menjaga lisan.
Dan yang terpenting, menjaga hati agar selalu dekat kepada Allah.
Jangan pernah merasa bahwa usia tua berarti kesempatan untuk berbuat baik telah berakhir. Selama Allah masih memberikan kehidupan, selama itu pula kesempatan untuk menambah bekal akhirat masih terbuka.
Semoga setiap tambahan usia yang Allah berikan kepada kita menjadi tambahan iman, tambahan amal saleh, tambahan ilmu, dan tambahan kedekatan kepada-Nya.
Dan semoga ketika usia kita semakin bertambah, kita tidak hanya bertambah tua, tetapi juga semakin baik di hadapan Allah.
Karena pada akhirnya, yang akan kita bawa bukanlah berapa lama kita hidup di dunia, melainkan apa yang telah kita lakukan selama Allah memberikan kesempatan hidup kepada kita.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Referensi:
