Fitnah Perusak Ukhuwah

Fitnah Perusak Ukhuwah

Fitnah Perusak Ukhuwah.Larangan Namimah (Menyebarluaskan Pembicaraan Antar Sesama dengan Tujuan Merusak)

“Kadang yang menghancurkan persaudaraan bukan musuh… tapi satu mulut yang gemar membawa cerita.”

Fitnah dan adu domba sering dianggap sepele, padahal Rasulullah ﷺ memberi peringatan keras tentang pelakunya.
Sudahkah kita menjaga lisan hari ini?

Dalam bahasa Arab, kata namimah memiliki beberapa makna, di antaranya:

  • Menghasut dan menyulut permusuhan.
  • Mengangkat pembicaraan lalu menyebarkannya dengan tujuan merusak hubungan.
  • Membungkus pembicaraan dengan kebohongan dan fitnah.
  • Tidak mampu menjaga rahasia atau memelihara ucapan.

Disebutkan dalam ungkapan syair:

“Musuh dalam selimut telah menfitnahmu sebelum menyatakan senang kepadamu.
Setiap ada kesempatan, dimanfaatkannya untuk menfitnahmu.”

Dan syair lainnya:

“Dia menangis karena fitnah yang menyebar,
merebak dan melekat di hati manusia,
akibat ulah pemfitnah, sang juara pembohong.”

Tentang orang yang tidak menjaga pembicaraan, dalam bahasa Arab dikatakan:

لم فلا ن نما
“Dia tidak memperhatikan pembicaraan dan tidak menjaganya.”


Foto by: pixbay

Pengertian Namimah

Dari berbagai makna di atas, dapat dipahami bahwa namimah adalah:

Menyampaikan perkataan dari satu pihak kepada pihak lain, lalu membungkusnya dengan kebohongan atau menyebarkannya dengan tujuan menimbulkan keburukan dan kerusakan di antara keduanya.

Perbuatan ini lahir dari kelemahan jiwa, hasad, dan keinginan merusak hubungan sesama manusia.


Istilah-Istilah yang Berkaitan dengan Namimah

Dalam bahasa Arab, pelaku namimah memiliki beberapa istilah, di antaranya:

  • النمام (nammaam)
  • القتات (qattaat)
  • القصاص (qassaas)
  • الدراّج (darraaj)
  • الغمّاز (ghammaaz)
  • الهمّاز (hammaaz)

Semua istilah tersebut menunjukkan sifat buruk yang berkaitan dengan fitnah dan adu domba. Tidak ada sedikit pun makna kebaikan di dalamnya.

Disebutkan pula dalam syair:

“Sahabat bagaikan sarang semut,
tidak memiliki kemuliaan di sisi Rabb-nya.
Ia bersungguh-sungguh, namun kesungguhannya
digunakan untuk fitnah dan adu domba.”


Dalil dari Al-Qur’an

Allah Ta’ala berfirman:

هَمَّازٍ مَّشَّاءٍۭ بِنَمِيمٍۢ

“Yang banyak mencela, yang kian kemari menebar fitnah.”
(QS. Al-Qalam: 11)

Allah mencela orang yang suka mengadu domba di tengah masyarakat, yaitu orang yang menyebarkan perkataan buruk dari satu pihak kepada pihak lain dengan tujuan merusak hubungan di antara mereka.

Perbuatan seperti ini merupakan larangan yang tidak boleh diikuti dan tidak boleh didengarkan.

Allah Ta’ala juga berfirman:

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya ada malaikat pengawas yang selalu hadir.”
(QS. Qaaf: 18)

Ayat ini mengingatkan bahwa setiap ucapan manusia akan dicatat dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.


HADITS

 وَعَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ :

لا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ

“Tidak masuk Surga orang yang suka mengadu domba.”
(Muttafaq ‘alaih)

Takhrij Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh:

  • Imam al-Bukhari (X/472 – Fath)
  • Imam Muslim (105)

Lafazh di atas merupakan riwayat Muslim. Adapun lafazh lain yang juga berstatus Muttafaq ‘alaih adalah:

لا يدخل الجنة قتات

Kosa Kata

  • النمام (an-nammaam) : pengadu domba.
  • القتات (al-qattaat) : orang yang menyebarkan ucapan untuk merusak hubungan manusia.

Kandungan Hadits

  1. Orang yang mendengar fitnah tidak boleh langsung membenarkan pembawa berita.
  2. Tidak boleh berprasangka buruk kepada orang yang difitnah.
  3. Tidak boleh sibuk menyelidiki dan menyebarluaskan fitnah tersebut.
  4. Seorang muslim hendaknya mencegah pelaku fitnah dan menjelaskan bahwa perbuatannya adalah perbuatan buruk.
  5. Rasulullah ﷺ memperingatkan umatnya agar waspada terhadap fitnah dan adu domba karena dapat merusak hubungan, memecah persaudaraan, dan menimbulkan permusuhan.
  6. Barang siapa menghalalkan perbuatan adu domba, padahal ia mengetahui bahwa hal itu haram, maka Allah mengharamkan Surga baginya.
  7. Adapun orang yang melakukannya namun tidak menghalalkannya, maka ia berada di bawah kehendak Allah:
    • Jika Allah menghendaki, Dia akan mengazabnya.
    • Jika Allah menghendaki, Dia akan mengampuninya.
  8. Wajib membenci perbuatan adu domba karena Allah membenci perbuatan tersebut.

Namimah adalah dosa besar yang sering dianggap ringan oleh manusia. Padahal, akibatnya sangat berbahaya karena dapat menghancurkan persaudaraan, merusak rumah tangga, memecah masyarakat, bahkan menimbulkan permusuhan berkepanjangan.

Seorang muslim hendaknya menjaga lisannya, memeriksa setiap berita, dan tidak menjadi penyebar fitnah. Semoga Allah menjaga lisan kita dari ucapan yang buruk dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang menjaga kehormatan sesama muslim. Aamiin.

Referensi

  1. Al-Qur’anul Karim.
  2. Al-Hilali, Salim bin ‘Ied. Syarah Riyadhush Shalihin Jilid 5. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2008.