Kejujuran Menuju Surga.Kejujuran adalah salah satu akhlak mulia yang sangat ditekankan dalam Islam. Jujur bukan hanya berarti berkata sesuai kenyataan, tetapi juga mencakup kesesuaian antara apa yang tampak dan apa yang ada di dalam hati, antara ucapan dan perbuatan, serta antara berita yang disampaikan dengan fakta yang sebenarnya.
Kejujuran merupakan sifat yang sangat agung. Dengannya seseorang dapat menempuh jalan kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Sebaliknya, kebiasaan berdusta dapat menyeret seseorang kepada berbagai keburukan.

Foto by: pixbay
Kedudukan Kejujuran dalam Islam
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan dalam kitabnya Madarijus Salikin (XI/268) tentang kedudukan sifat ash-shidq (kejujuran):
“Yaitu maqam (kedudukan) kaum yang paling agung, yang darinyalah bersumber maqam-maqam para salikin (orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah), sekaligus sebagai jalan yang lurus; hingga siapa saja yang tidak berjalan di atasnya, niscaya mereka akan binasa. Dengannya dapat dibedakan antara orang-orang munafik dan orang-orang beriman, juga antara para penghuni Surga dan para penghuni Neraka.
Kejujuran ibarat pedang Allah yang terhunus di muka bumi. Tidak ada sesuatu pun yang diletakkan di hadapannya melainkan sesuatu itu terpotong olehnya. Tidaklah kejujuran ini menghadapi kebatilan, melainkan ia pasti akan melawan dan mengalahkannya. Tidaklah ia menyerang lawannya, melainkan tidak ada yang sanggup mengalahkannya.
Bahkan, siapa saja yang menyuarakannya, niscaya kalimatnya itu akan terdengar keras mengalahkan suara musuh-musuhnya.
Kejujuran itu merupakan roh amal, penjernih jiwa, penghilang rasa takut, dan pintu masuk bagi orang-orang yang hendak menghadap Rabb Yang Mahamulia. Kejujuran adalah fondasi bangunan agama (Islam) dan tiang penyangga keyakinan (iman).
Derajat kejujuran berada tepat di bawah derajat kenabian, yang ia merupakan derajat tertinggi di alam semesta. Dan dari tempat tinggal para nabi di Surga mengalir mata air serta sungai-sungai yang menuju ke tempat tinggal orang-orang yang jujur, sebagaimana dari hati para nabi Allah ke hati-hati mereka di dunia ini terdapat penghubung dan penolong.”
Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kejujuran berarti adanya kesesuaian antara kondisi lahir dan batin, antara ucapan dan perbuatan, serta antara berita dan fakta.
Kejujuran bukan sekadar mengatakan sesuatu yang benar, tetapi juga menjadi bagian dari keimanan dan akhlak seorang Muslim.
Perintah Allah untuk Bersikap Jujur
Allah Ta’ala memerintahkan orang-orang beriman agar bertakwa dan senantiasa bersama orang-orang yang benar dan jujur.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar (jujur).”
(QS. At-Taubah [9]: 119)
Ayat ini menunjukkan besarnya kedudukan kejujuran. Allah Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk bertakwa dan bersama orang-orang yang benar.
Kejujuran hendaknya menjadi sifat yang terus dijaga dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari, karena orang yang jujur akan lebih dekat kepada berbagai kebaikan.
Kejujuran bagi Laki-Laki dan Perempuan
Kejujuran bukan hanya tuntutan bagi laki-laki. Seorang Muslimah juga dituntut untuk memiliki sifat jujur dalam perkataan, perbuatan, niat, dan seluruh kehidupannya.
Allah Ta’ala berfirman:
وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ
“Laki-laki dan perempuan yang benar (jujur)…”
(QS. Al-Ahzab [33]: 35)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa sifat jujur merupakan salah satu sifat terpuji yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang Mukmin, baik laki-laki maupun perempuan.
Seorang Muslimah hendaknya membiasakan diri untuk berkata benar, menepati apa yang telah disampaikan, tidak menyembunyikan kebenaran, serta berusaha menyesuaikan perbuatan dengan apa yang ia ucapkan.
Kejujuran adalah Kebaikan bagi Seorang Mukmin
Allah Ta’ala berfirman:
… فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ
“Padahal jika mereka benar-benar (beriman dengan jujur) kepada Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.”
(QS. Muhammad [47]: 21)
Ayat ini menunjukkan nilai kejujuran. Kejujuran merupakan kebaikan dan menjadi sebab keselamatan.
Kejujuran juga memiliki hubungan yang erat dengan amal seseorang. Ketulusan dalam iman dan kesungguhan dalam ketaatan akan tampak dalam sikap jujur seorang hamba.
Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya tidak hanya berusaha terlihat baik di hadapan manusia, tetapi juga berusaha memperbaiki hati dan amalnya di hadapan Allah Ta’ala.
Kejujuran Mengantarkan kepada Surga
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan hubungan yang sangat erat antara kejujuran, kebaikan, dan Surga.
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا، وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا
*”Sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkan (seseorang) ke Surga. Orang yang berbuat jujur akan terus berbuat jujur hingga ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur.
Dan sesungguhnya kedustaan itu mengantarkan kepada keburukan, dan keburukan mengantarkan (seseorang) kepada Neraka. Seorang pendusta akan terus berbuat dusta hingga kelak ia akan ditulis (ditetapkan) di sisi Allah sebagai seorang pendusta.”*
(Muttafaq ‘alaih)
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim. Hadits tersebut menunjukkan betapa besar pengaruh kebiasaan seseorang terhadap karakter dan akhir kehidupannya.
Makna Beberapa Kosakata Hadits
الْبِرُّ (al-birr)
Maknanya adalah kebaikan. Lafaz ini mencakup berbagai bentuk kebaikan.
الْفُجُورُ (al-fujur)
Maknanya adalah keburukan atau perbuatan yang menyimpang dari ketaatan kepada Allah.
يَهْدِي (yahdi)
Maknanya adalah membimbing atau mengantarkan.
Baca juga: Bahaya Berlaku Curang
Pelajaran Penting tentang Kejujuran
Dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits di atas, terdapat beberapa pelajaran penting yang dapat kita ambil.
1. Kejujuran Mengantarkan kepada Kebaikan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan bahwa kejujuran merupakan jalan menuju al-birr, yaitu berbagai macam kebaikan.
Karena itu, membiasakan diri berkata dan berbuat jujur merupakan salah satu sarana untuk memperbaiki diri.
2. Dusta Mengantarkan kepada Keburukan
Islam melarang perbuatan dusta dan memperingatkan agar seorang Muslim tidak meremehkannya.
Dusta bukanlah perkara kecil jika terus dilakukan. Kebohongan yang diulang-ulang dapat menjadi kebiasaan, kemudian berubah menjadi karakter seseorang.
3. Kebiasaan Membentuk Karakter
Hadits tersebut menunjukkan bahwa seseorang yang terus membiasakan dirinya dengan kejujuran akan dikenal sebagai orang yang jujur.
Sebaliknya, orang yang terus membiasakan diri berdusta dapat dikenal sebagai seorang pendusta.
Karena itu, akhlak tidak cukup hanya dipelajari secara teori. Akhlak yang baik perlu dilatih dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.
4. Seseorang Dikenal dengan Akhlaknya
Orang yang memiliki sifat tertentu secara konsisten dapat dikenal dengan sifat tersebut.
Seseorang yang senantiasa jujur, misalnya, akan dikenal sebagai orang yang jujur atau shiddiq. Sebaliknya, orang yang terbiasa berdusta akan dikenal dengan sifat tersebut.
Hal ini menjadi pengingat bagi kita agar berhati-hati dalam membentuk kebiasaan.
5. Akhlak Mulia Diperoleh dengan Pembiasaan
Akhlak yang baik tidak selalu muncul dengan sendirinya. Ia perlu dilatih dan dibiasakan.
Jiwa manusia mudah terpengaruh oleh kebiasaan yang terus dilakukan. Jika seseorang membiasakan dirinya melakukan kebaikan, dengan izin Allah kebiasaan tersebut dapat menjadi bagian dari tabiatnya.
Begitu pula sebaliknya. Membiasakan diri melakukan keburukan dapat membuat keburukan tersebut semakin melekat pada dirinya.
6. Amal Shalih Mengantarkan kepada Surga
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa kejujuran mengantarkan kepada kebaikan dan kebaikan mengantarkan kepada Surga.
Sebaliknya, kedustaan mengantarkan kepada keburukan dan keburukan mengantarkan kepada Neraka.
Maka, seorang Muslim hendaknya menjaga kejujuran dalam setiap keadaan: ketika berbicara, bekerja, berdagang, belajar, mendidik anak, berinteraksi dengan keluarga, maupun ketika berhubungan dengan orang lain.
Mari Membiasakan Diri untuk Jujur
Kejujuran terkadang terasa berat, terutama ketika berkata benar dapat membuat kita berada dalam posisi yang tidak nyaman. Namun, seorang Mukmin hendaknya lebih mengutamakan keridhaan Allah daripada penilaian manusia.
Kejujuran adalah jalan yang membawa kepada kebaikan. Ketika kejujuran terus dibiasakan, ia akan menjadi karakter. Dan ketika kebaikan terus dilakukan dengan ikhlas karena Allah, ia menjadi jalan menuju keselamatan.
Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang jujur, mencintai kebenaran, menjauhi kedustaan, serta istiqamah dalam ketaatan kepada-Nya.
Wallahu a’lam.
